MENU
Peternakan Etawa Jaya

Memilih Kambing Etawa Perah

Pemilihan indukan kambing etawa yang akan diperah adalah hal yang paling penting dilakukan oleh peternak kambing perah. Seleksi dilakukan secara cermat untuk menghindari resiko yang mungkin terjadi seperti: kurang maksimalnya produktivitas susu kambing yang dihasilkan, penyakit mastitis sampai cacat pada kambing. Semua resiko ini dapat membawa kerugian pada peternak. Jika kambing yang diperah terkena penyakit mastitis maka produksi susu akan berkurang sampai terhenti. Peternak juga harus mencarikan susu pengganti untuk anak kambing yang terkena mastitis. Ini juga akan menambah ongkos produksi. Jika ambing kambing etawa yang terkena mastitis sampai cacat maka harga jual kambing pun akan berkurang.

Kriteria Kambing Etawa

Indukan kambing etawa yang bagus memenuhi kriteria-kriteria yang telah disebutkan di artikel Memilih Kambing Etawa Betina .

Morfologi Ambing

Bentuk morfologi ambing (udder) merupakan aspek yang penting dalam memilih kambing perah. Kajian (studi) mengenai korelasi/hubungan bentuk morfologi ambing dengan produktivitas susu telah menjadi riset yang intensif di luar negeri [1]. Banyak makalah (paper) & referensi yang dapat didapatkan di internet. Hasil studi ini sangat bersesuaian dengan kenyataan di lapangan yang sering ditemui peternak kambing perah. Sayangnya belum ada referensi di buku dan internet lokal yang membahas ini.

Ambing (udder) pada kambing terdiri dari dua bagian terpisah. Ambing ini adalah kalenjar penghasil susu. Susu yang dihasilkan ini ditampung di suatu penampung (cistern) yang kemudian dikeluarkan melalui puting ambing (teat). Aspek yang perlu diperhatikan dalam memilih kambing perah berdasar morfologi ambing adalah sebagai berikut:

1. Kekuatan Ambing

Ambing yang baik adalah ambing yang kencang dan terangkat. Ambing yang kencang dan terangkat adalah ambing yang kuat untuk diperah [3].

Ambing yang melorot (sagging) atau berbentuk botol sebaiknya tidak dipilih. Jenis ambing ini membuat sulit untuk diperah. Selain itu jenis ambing botol ini membuat sulit kambing berjalan sehingga ambing mudah sekali untuk terluka [5]

Kami telah melihat fakta di lapangan ambing yang berbentuk botol atau melorot mudah robek. Robeknya ambing bisa disebabkan terkena benda, diperah, bahkan hanya karena disusu oleh anak kambing (cempe) tersebut. Jika luka ini dibiarkan dapat menyebabkan infeksi atau disebut mastitis. Mastitis terkadang tidak dapat disembuhkan dan terulang kembali setiap kelahiran anak (ingat ambing dapat robek karena disusu oleh anaknya). Jika mastitis terulang kembali besar kemungkinan ambing harus diamputasi (mastectomy) [4]. Berikut adalah foto ambing botol yang terserang mastitis. Karena suatu hal yang tidak disengaja ambing ini terserang mastitis kembali dan harus diamputasi.

Seiring dengan semakin tua kambing, ambing akan tambah melorot ke bawah. Hal ini membuat sulit untuk diperah dan mudah terluka seperti yang dijelaskan diatas. Oleh karena itu peternak hendaknya menghindari jenis ambing botol ini.

Dalam dunia kambing dan sapi perah, kriteria kekencangan suatu ambing disebut kedalaman ambing (udder depth). Kriteria ini dihitung dari jarak bagian bawah ambing sampai lutut kambing / sapi. Ambing yang melorot mendapatkan nilai terendah dari kriteria ini [6], [7].

2. Volume

Produksi susu dari suatu ambing sangat bergantung pada volume ambing tersebut. Volume ambing diukur dari keserasian diameter horisontal dan vertikal (the balance between the horizontal and vertical diameters[2]). Dalam bahas yang lebih sederhana adalah seberapa dekat mendekati bentuk yang bulat sempurna. Ambing yang berbentuk botol bukan berarti memiliki volume yang besar karena diameter vertikal yang terlalu panjang (tidak bulat sempurna).

Volume ambing yang besar memiliki produktivitas susu yang tinggi dibandingkan volume ambing yang berukuran kecil [1].

Ambing terdiri dari dua bagian yang terpisah. Ambing yang ideal harus sama besar (simetris) dengan jarak antar puting yang agak berjauhan. Bentuk ambing ini mampu menghasilkan susu secara maksimal. Selain itu ambing seperti jarang melorot bahkan pada saat kambing semakin tua [5].

Selain itu bentuk ambing yang dapat menghasilkan susu secara maksimal adalah yang memiliki kantung kapur yang besar (roomy udder) seperti yang ditunjukkan gambar dibawah ini.

3. Ukuran Puting

Jika peternak ingin memerah secara manual dengan tangan, hendaknya memilih ambing dengan puting (teat) yang besar dan panjang sehingga nyaman untuk diperah[3]. Puting yang terlalu kecil akan sulit untuk diperah. Ukuran puting ini akan semakin membesar dengan bertambahnya umur kambing.

Peternak Senduro

Paparan diatas ditulis dilatar-belakangi pengalaman di lapangan dan analisa peternak kambing perah di Senduro, Lumajang. Dengan adanya berbagai variasi kambing etawa di Senduro, peternak Senduro dapat membandingkan dan menganalisa dari keunggulan dan kekurangan bentuk morfologi ambing dari jenis kambing etawa yang ada. Tentunya jika analisa ini benar maka harus sesuai dan selaras dengan referensi dan riset ilmiah yang ada. Harapannya dengan kajian ilmiah ini dapat memberikan pencerahan mengenai bentuk ambing yang ideal dan bagus untuk kambing perah.

Referensi:

  1. Correlations Between Udder Morphology, Milk Yield, and Milking Ability with Different Milking Frequencies in Dairy Goats, halaman 2076
  2. Correlations Between Udder Morphology, Milk Yield, and Milking Ability with Different Milking Frequencies in Dairy Goats, halaman 2077
  3. Udder Information
  4. Culling In a Meat-Goat Herd
  5. The Goat Handbook, Chapter Nine, halaman 107
  6. Udder Depth
  7. Judging Guide, halaman 10 (Analyzing Udder)

Artikel terkait :